Tebingku Sayang Tebingku Malang

Buletinkaonak.com – Panjat tebing alam adalah salah satu kegiatan petualangan “ high risk sport “ yang sangat mengasyikkan. Kita biasa merasakan adrenalin naik kekepala, gravitasi yang semakin besar, emosi serta rasa takut yang menyertai tiap pegangan dan pijakan yang kita lakukan untuk menambah ketinggian, semua itu bukannya menyurutkan semangat untuk memanjat tapi justru tantangan tersendiri guna mengendalikan segalanya untuk satu tujuan yaitu “ nge-top “.

Parangndog, suing, dan kali kuning adalah tempat-tempat pemanjatan tebing alam yang sangat familiar dengan kita, untuk kesanapun tidak membutuhkan biaya yang besar, paling ongkos naik angkutan saja setelah sampai disana kita dapat dengan bebas memilih jalur atau membuat jalur sendiri dengan etika – etika pemanjatan  yang ada kemudian memanjat. Hal itu jika dipandang dari sisi pecinta alam, tetapi apa sih tebing / batu itu jika dipandang dari sisi bussinessmen, jawabannya tentu berbeda, tebing / batu itu adalah UANG, bias ditambang atau dijual dengan harga yang lumayan.

Tebing Parangndog dan suing yang terbuat dari batu gamping ( limestone ), kebanyakan ditambang untuk bahan semen hal ini dikarenakan kandungan CaCO yang sangat penting untuk bahan bangunan tersebut atau untuk bahan pondasi. Apalagi jika batu gamping tersebut telah termalihkan ( termetamorf ) menjadi marmer, yang satu ini sangat diincar-incar para penambang untuk dijual karena harganya yang mahal jika sudah diolah menjadi ubin. Sedangkan tebing kali kuning terbuat dari Andesit ( batuan beku ), biasanya digunakan untuk pondasi rumah, bantalan rel kereta api dan untuk bangunan-bangunan lain yang membutuhkan batuan dengan kuat tekan tinggi.

Dramatis memang jika hal – hal seperti konservasi tebing kita hubungkan dengan masa sekarang yang katanya era pembangunan. Disatu sisi kita dari kalangan pecinta alam dan pemanjat khususnya ingin berkegiatan di tebing sedangkan disisi yang lain ada para pembangun bangsa ingin membangun infrastruktur dengan mengambil bahan dari tebing tersebut. Terkadang untuk mengambil jalan tengah pun sulit dan yang pasti akan ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Ada contoh kasus dimana tebing yang terbuat dari batu gamping ditambang untuk bahan bangunan, kemudian disisakan beberapa meter untuk para pemanjat tebig alam, jalan keluarnya sekilas memang adil tapi jika kita melihat kembali dampak kedepannya para pecinta tebing sangat dirugikan, beberapa jalur pemanjatan yang hilang dan kemudian berapa yang bisa dipanjat?

Lebih jauh lagi apa yang akan terjadi 10 atau 20 tahun yang akan datang dengan tebing kita ?, mungkin mapala, pemanjat atau anak-anak cucu kita nanti tidak akan mengenal lagi yang namanya panjat tebing alam, yang mereka tahu tinggal manjat di fiber dan multipleks.

Ini merupakan tugas kita semua untuk menjaga dan melestarikan kekayaan sumber daya untuk tabungan generasi mendatang.

(sumber: buletinkaonak edisi 21, garenc)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *