Pecinta Alam dan Kemerdekaan

Buletinkaonak.com – Pendudukan negara Belanda di negara kita yang diwarnai dengan penindasan dan penjajahan, penjarahan hasil alam serta pembodohan tidaklah berakhir dengan begitu saja, banyak yang telah dikorbankan kakek nenek moyang kita, harta benda bahkan yang termahal sekalipun yaitu nyawa ikut dikorbankan juga, setelah Belanda angkat kaki dari ibu pertiwi, bersamaan dengan itu muncullah penjajah baru yaitu Jepang. Penjajahan oleh negara matahari terbit ini lebih parah dari belanda, kata orang ibarat keluar dari mulut harimau jatuh kemulut buaya, disini kembali semua milik kita harus dikorbankan untuk kepentingan mereka. Sejak awal penjajahan negara – negara yang “haus” itu, orang orang yang peduli dengan kebebasan dan kemerdekaan yang sekarang kita kenal dengan pahlawan bangsa terus memperjuangkannya. Perjuangan merebut kemerdekaan yang banyak memakan korban akhirnya membuahkan hasil yang diharapkan sejak awal.

Hari jum’at, tanggal 17agustus 1945, merupakan hari yang sangat bersejarah bagi negara kita. Hari ini dibacakan proklamasi kemerdekaan RI oleh Bung Karno atas nama Bangsa Indonesia dan dengan dibacakannya proklamasi itu berarti secara otomatis negara kita sudah bebas dan merdeka, tidak ada lagi intimidasi penjajahan dan penindasan.

Hari bersejarah, hari dimana kebebasan kita dikumandangkan ke seluruh penjuru duni 58 tahun silam masih terus dikenang dan dirayakan diseluruh pelosok negeri. Banyak cara orang untuk merayakannya, ada yang melaksanakn do’a bersama, ,melaksanakan omba panjat pinang, lomba dangdutan, pemasangan bendera merah putih didepan rumah dan pengecatan pagar rumah dan lain lain. Selain itu ada lagi cara lain merayakan kemerdekaan RI, yaitu cara pecinta alam.

Dalam merayakan kemerdekaan RI banyak hal yang dilakukan oleh pecinta alam misalnya melakukan upacara di puncak gunung, sengaja memanjat tebing, masuk gua, arung jeram tepat tanggal 17 agusutus serta banyak lagi hal yang dilakukan yang intinya merayakan kemerdekaan. Namun dari sekian kegiatan yang dilakukan yang paling diminati tiap tahun adalah melakukan upacara 17-an di puncak gunung.

Selain membawa peralatan dan perlengkapan standar gunung para pendaki biasanya menyempatkan membawa bendera merah putih untuk digunakan sebagai bendera upacara dan aksesoris sebagai tanda sedang merayakan kemerdekaan. Tercatat lebih dari 10000 pendaki yang melaksanakan upacara di puncak gunung tiap tahunnya. Angka ini sangat fantastis, ternyata dibalik kehidupan yang liar dan slenge’an ( kata orang sich ) di hati para pecinta alam ada juga rasa cinta kepada negeri ini.

Jika kita melihat kegiatan kegiatan yang dilakukan saudara saudara kita sebenarnya banyak yang dilakukan untuk hal hal yang positif, walaupun memang tak bias dipungkiri bahwa ada juga oknum oknum yang melakukan yang negative, dan hal itu wajar karena kita tidak bias berkata bahwa semua orang itu benar. Kitalah yang paling mengerti apa yang kita lakukan terserah orang berkata apa.

(sumber: buletinkaonak edisi 21, spekol)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *