Cacing Berharga

Buletinkaonak – Bicara tentang survival di alam khusunya di gunung atau di hutan, banyak sekali tanaman yang dapat dikonsumsi seperti contohnya daun pakis dan tapak gajah. Selain tanaman juga banyak binatang yang bisa konsumsi salah satunya adalah cacing tanah. Untuk mendapatkan cacing tanah tidak terlalu sulit, tidak seperti berburu binatang lain yang harus memerlukan jerat atau perangkap untuk mendapatkannya. Kadang cacing muncul sendiri diatas permukaan tanah atau cukup mengkorek tanah dan akar pohon yang lapuk.

Mungkin sebagian orang agak jijik mengkonsumsi cacing, tapi sebenarnya cacing memiliki banyak kandungan gizi dan ampuh mengobati berbagai penyakit. Cacing kaya akan kandungan protein, bahkan kandungan protein ini mencapai 77% jauh lebih tinggi dibandingkan protein yang terdapat di daging sapi dan ikan.

Selain protein juga terdapat enzim, asam amino, antibotik dan lain-lain. Manfaat cacing juga sangat beragam, dapat digunakan sebagai obat tipus, obat diare, melancarkan pencernaan, menurunkan demam, menurunkan darah tinggi, meningkatkan daya tahan tubuh, dan cepat menyembuhkan luka, tapi tidak termasuk meyembuhkan luka dihati karna ditinggal pas sayang-sayangnya yah.. upssss

Banyak jenis cacing tanah yang aman dikonsumsi dan kalian bisa search sendiri di internet. Tapi kali ini penulis akan membahas salah satu cacing yang cukup fenomenal yaitu Cacing Sonari. banyak yang menyebut cacing ini adalah “Cacing Berharga”. Why?

Cacing sonari atau nama ilmiahnya Metaphire Longa merupakan cacing raksasa yang memiliki ukuran panjang mencapai 1,5 meter dan usia hidupnya sekitar 15 tahun. Cacing ini memiliki warna abu-abu dan memiliki permukaan kulit mengkilap. Tubuh cacing sonari lembut dan terdiri dari cincin-cincin yang disebut ‘annuli’ dan pada malam hari, cacing sonari akan mengeluarkan suara seperti peluit.

Habitat cacing sonari ini berada di ketinggian 1800 hingga 2200 meter diatas permukaan laut dan hidup di daerah yang lembab serta teduh terhindar dari sinar matahari. Biasanya cacing ini mendiami tanaman kadaka atau di akar-akar pohon. Cacing ini banyak ditemukan di pegunungan di Jawa Barat yaitu Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak.

Sedikit geli memang saat memegang cacing ini, karena ukurannya cukup besar seperti ular apalagi jika harus memakannya. Cara mengkonsumsi cacing sonari dapat langsung dimakan tetapi harus dibersihkan terlebih dahulu isi perutnya lalu cuci dengan air hingga bersih. Bagi yang tidak suka makanan mentah cacing ini dapat direbus atau diolah menjadi masakan.

Ternyata rasa cacing ini jika dimakan mentah tidak terlalu buruk, tidak bisa dikatakan enak dan juga tidak bisa dikatakan tidak enak. Setalah dipotong dan dibersihkan otomatis yang tersisa hanya kulitnya dan baunya sedikit amis. Teksturnya keras dan kenyal, untuk rasanya sih hambar tetapi renyah saat dikunyah. Karna sedikit amis sepertinya cocok jika dimakan bersama sambal terasi dan tambahkan nasi biar kenyang. Ehhe

Harga cacing sonari ini sangatlah mahal, perekornya bisa mencapai 40 ribu dan untuk satu kilogram cacing sonari kering bisa dihargai 5-6 juta rupiah, inilah mengapa cacing sonari disebut dengan cacing berharga. Cacing ini sampai di ekspor ke Jepang dan China untuk digunakan sebagai obat dan bahan kosmetik.

Karna cacing ini memiliki banyak manfaat dan nilai ekonomis yang sangat tinggi, banyak warga yang mencari bahkan rela tinggal berhari-hari didalam hutan. Pada tahun 2017 lalu muncul kasus seorang warga Cianjur ditangkap oleh aparat kepolisian dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena diduga mencari cacing sonari dengan cara merusak hutan dan menebang pohon secara ilegal di area konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Dengan merusak alam atau menebang pohon pasti tidak hanya cacing sonari saja yang akan terganggu populasinya, semua jenis binatang di hutan juga akan terkena dampaknya dan bisa saja akan punah jika tidak segera ditangani.

Alam sudah menyediakan semua yang kita butuhkan, tinggal bagaimana kita menggunakannya dengan bijak. Salam Lestari.

 

Penulis: Mancia (GPA)

Refrensi: Berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *